15 Jan 2013

Kenapa Jarang Orang Kreatif Jadi Pemimpin?


pemimpin+kreatif+jarang 
Dibanyak tempat, orang kreatif biasanya menjadi kacung buat pemimpinnya yang bias dalam soal kreatifitas Mari kita lihat pengalaman masing-masing baik ditempat kerja, organisasi, lingkungan, komunitas bahkan di lingkungan sosial terkecil yang namanya keluarga. Kenapa orang yang lebih kreatif jarang di angkat menjadi pemimpin. Justru dibanyak tempat, orang kreatif biasanya menjadi kacung buat pemimpinnya yang bias dalam soal kreatifitas.
Mari kita lihat pengalaman masing – masing baik ditempat kerja, organisasi, lingkungan, komunitas bahkan di lingkungan sosial terkecil yang namanya keluarga. Kenapa orang yang lebih kreatif jarang di angkat menjadi pemimpin. Justru dibanyak tempat, orang kreatif biasanya menjadi kacung buat pemimpinnya yang bias dalam soal kreatifitas. Saking biasnya, tim kreatif sang pemimpin itu sering harus mati – matian meyakinkan sang leader
untuk memahami konsep dan karya yang mereka buat sudah sedemikian inovatif tetapi boro – boro diapresiasi, di mengerti saja tidak, Hahaha itulah kehidupan. Dari pengalaman dan pengamatan,  ada beberapa asumsi kenapa orang kreatif jarang menjadi pemimpin:


1. Kreativitas itu ancaman!
Perusahaan atau lembaga apapun memang perlu orang kreatif, itu sudah disadari. Tetapi bukan untuk jadi pemimpin. Yang memimpin ya yang punya hajat lah alias yang punya agenda alias yang punya modal. Gampangkan! Kreatifitas cukup ditempatkan sebagai penghias, alat, desain atau bahkan dibanyak tempat cukup jadi jargon saja alias pencitraan bahwa kami adalah kreatif.

Kalau orang kreatif jadi pemimpin? Habis sudah gaya kepemimpinan lama atau yang punya modal di obrak abrik. Walaupun sebenarnya niatnya baik untuk buat perubahan spektakuler, tapi mana tahan, status quo dan kemapanan yang begitu ajeg selama bertahun – tahun harus di ganti dengan formula yang lebih baik dalam waktu singkat gara – gara si kreatif. Apa ngga mengancam itu?

2. Kreativitas itu tidak efektif
Asumsi umum pemimpin itu harus efektif karena memahami kepemimpinan adalah sumber pemberi perintah. Contoh aparat saja dinamai pemerintah, tukang perintah heuheu. Masih sangat awam dan mengawang awang jika kepemimpinan efektif dikaitkan dengan kreatifitas. Orang kreatif dianggap tidak cocok mengepalai urusan yang besar, hanya cocok untuk urusan detailing yang parsial.

Karena proses kreatif itu tidak sama dengan proses nalar yang serba logis dan sistematis berdasar causalitas, makanya jarang orang mengerti proses kreatif sebenarnya bisa lebih efektif dan mempunyai tingkat penyelesaian yang sangat efesien. Budaya berpikir kreatif atau otak kanan yang kemudian menghasilkan proses kreatif yang tidak sama dengan budaya berpikir rasio menjadi penyebab asumsi yang salah bahwa kreativitas itu tidak efektif. Padahal esensi kreativitas itu hakekatnya adalah penyederhanaan masalah.

3. Kreativitas itu tidak konsisten
Ketika berbicara kreatifitas, orang biasanya lebih teringat dengan gaya yang nyentrik, aneh – aneh, sudah diatur, susah kerjasama, punya rules dan jalur sendiri, susah diajak kompromi dan sebagainya. Orang kreatif juga ditakuti karena sudah diajak debat, pasti kalah deh kalau debat dengan orang kreatif. Pasti ujungnya dia yang menanglah, begitu yang kita sering dengar.

Yang parahnya lagi, asumsi umum selalu melihat kreativitas itu “terlalu dinamis”, sudah bagus yang dibuat pertama atau ide pertamanya, eh kita mau ikut malah diganti dengan ide yang baru lagi, misalnya begitu. Namanya juga kreatif, tapi bukan karena tidak konsisten, karena sifat organik kreatif itu sendiri yang senantiasa mencari kelemahan dalam kesempurnaan.



4. Kreatifitas itu Skill bukan kepemimpinan
Orang juga kenal, kreatifitas itu identik dengan seniman, penyair, pelukis, pematung, desainer, arsitek, engineer dan bidang – bidang keahlian khusus, bukan pada kepemimpinan. Orang percaya dan kagum dengan visi penciptaan karya tapi bukan visi kepemimpinan pada orang – orang kreatif.
Kepemimpinan itu di banyak tempat malah tidak boleh kreatif, artinya tidak boleh neko – neko, tidak boleh trial dan error, tidak boleh keluar dari garis dan pakem. Sehingga sangat jarang kita melihat ada pemimpin yang cepat tanggap dalam penyelesaian masalah apapun.

5. Kreativitas memang harus punya kerajaan sendiri
Karena memang asumsi sudah kental melekat seperti yang saya tulis diatas, oleh karena itu memang orang kreatif tidak cocok jadi pemimpin. Cocoknya jadi Raja! Raja di kerajaannya sendiri. Nah baru kalau rajanya sudah berasal dari orang yang paling kreatif, silahkan anda memilih mau buat kerajaan sendiri atau ikut raja yang ada menjadi raja – raja kecil di bawah naungan raja besar imperium kreatif.

Tapi saran saya, kalau rajanya tidak sekaliber Steve Jobs, Richard Branson, dan kaisar – kaisar kreatif seperti mereka, mending anda buat kerajaan anda sendiri. Buat istana sendiri, buat envronment sendiri, jadi pemodal sendiri seperti +Yoris Sebastian Nisiho mention di twitter: Jadilah investor kreatif alias Creativepreneur. Lalu buat iklim yang paling kondusif agar karya kreatif anda benar – benar gemilang dan buktikan kepada dunia jika anda adalah pemimpin paling kreatif, sekaligus paling efektif, paling konsisten dan paling kharismatik. Sekian, salam kreatif!

http://www.konsultankreatif.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.